Saith : Dir Arall [Cymru Iaith]
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum kita mencobanya. Kata-kata yang selalu diucapkan oleh sebuah karakter dari game Suikoden yang pernah saya mainkan. Dan dengan apa yang telah saya alami ternyata hal tersebut saya buktikan berkali-kali. Akan banyak hal yang terjadi ketika kita berani memulai sesuatu. Bahkan dengan keberanian tersebut salah satu mimpikupun akhirnya menjadi kenyataan.
Pernah saya kagum dengan Bapak saya ketika dia pernah mengatakan bahwa dia pernah sekolah di LUAR NEGERI.
"Wow Bapak sangar. Sekolah teng pundi Pak?"
"Sekolah nek tsanawi," jawab Bapakku ringan.
"Lho tsanawi bukane wontene mung teng Indonesia?" tanyaku polos.
"Tsanawi kan sekolah swasta. Dudu sekolah negri. Dadine Bapak tau sekolah nek LUAR NEGERI," jawabnya ringan
Sebagai anak yang masih SD saat itu aku merasa dikerjai karena keluguanku.
Pergi ke provinsi lain saja sangat jarang [pergipun paling cuma yang ada di Pulau Jawa] apalagi ingin pergi ke luar negeri. Mana bisa aku yang hidup di rumah yang mepet dengan sawah bisa pergi ke negeri antah berantah. Tapi yang namanya keinginan juga ada pastinya. Hanya saja cuma keinginan dalam hati saja.
Semua berawal ketika akhirnya aku bersekolah di SBBS. Di sana saya merasa seperti seorang senior walaupun semua satu angkatan dengan saya. Pertama karena saya sudah tiga tahun tinggal di asrama [sekolah Pasiad umumnya mengharuskan anak-anaknya untuk tinggal di asrama]. Selain itu saya juga sudah pernah mengenyam pendidikan Bahasa Turki selama tiga tahun di SMP saya sebelumnya. Hal-hal itulah yang sedikit menguntungkan saya dibandingkan yang lain.
Di antara sekolah-sekolah Pasiad di Indonesia terdapat suatu kompetisi dengan nama Uluslararası Türkçe Olimpiyatları. Olimpiade Bahasa Turki yang digelar setiap tahun. Dalam kompetisi tersebut terdapat berbagai macam kompetisi seperti lomba menyanyi, lomba menari, lomba baca puisi, lomba kecakapan bahasa, lomba keterampilan, dll. Tentunya menggunakan bahasa Turki. Kompetisi tersebut sudah dimulai sejak 10 tahun yang lalu . [Kapan ya ada olimpiade Bahasa Indonesia ?]. Semua sekolah-sekolah Pasiad pasti sibuk mempersiapkan hal tersebut, terutama para guru-guru Bahasa Turki.
Karena guru-guru saya tahu bahwa saya pernah sekolah di Pasiad sebelumnya, akhirnya saya ditunjuk untuk mengikuti kompetisi tersebut dengan bidang kecakapan bahasa atau konusma dalam bahasa turkinya. Namun karena kurang seriusnya saya belajar saat itu [karena juga saya berkonsentrasi untuk olimpiade komputer] di tahun pertama saya gagal. Para guru-guru di sekolah saya menyusun strategi baru agar bisa seluruh siswa-siswanya jadi juara di kompetisi tahun depannya.
Strategi itu adalah mengirim sebagian siswanya untuk pergi ke TURKI supaya belajar langsung bagaimana bahasa turki dan budaya turki itu sendiri. Dan diantara mereka aku termasuk salah satu yang terplih untuk pergi ke turki. Di satu sisi hal tersebut sangat mengejutkan bagi saya karena mimpi buat pergi ke luar negri sudah ada di depan mata namun di sisi lain persyaratan yang harus disiapkan sangatlah mendadak. Biaya tiket ditanggung sendiri dan juga berkas-berkas yang lain harus segera dikumpulkan dalam waktu seminggu jika ingin berangkat. Awalnya saya tidak ingin pergi karena sayatidak ingin membebani orang tua saya karena harus menanggung biaya tiket yang tidak sedikit. “Mending buat biaya sekolah saja.” Begitu kataku kepada bapakku. Mungkin karena tidak ingin anaknya kecewa jika kehilangan kesempatan tersebut, beliau tetap mengusahakan untuk memenuhi semua keperluan. Karena saya juga tidak ingin mengecewakan usaha dari beliau akhirnya saya setuju untuk berangkat ke Turki.
Setelah semua urusan dari mulai paspor, visa, tiket dan dokumen-dokumen sudah siap, pada tanggal 29 November 2009 dengan menaiki Emirates saya resmi keluar dari batas Negara Indonesia. Dan mimpi saya untuk bisa ke luar negeripun menjadi kenyataan. Banyak hal yang saya dapatkan disana. Pengalaman yang tidak ternilai harganya.
Selain belajar bahasa dan kebudayaan mereka akhirnya saya bisa melihat secara langsung peninggalan dari kesultanan Ottoman. Seperti masjid yang pernah menjadi gereja Aya Sophia, Blue Mosque, benteng-benteng perang dalam perang salib. Bahkan saya juga bisa melihat secara langsung barang-barang peninggala dari Rasulullah SAW. Seperti jenggot beliau, pedang yang beliau gunakan ketika berperang.
Semua hal-hal tersebut tidak pernah saya dapatkan jika tanpa usaha dari orang tua saya [terutama Bapak saya], tanpa ada usaha dari beliau saya tidak pernah merasakan hal-hal tersebut. Dan guru-guru dari sekolah saya çok teşekkür ederim.
“We’ll never know until we give it a shot”
-Hero, Suikoden Tierkreis
0 comments:
Post a Comment